Adela Kanasya Adies: Kampus Harus Cetak Pemecah Masalah Era AI

4 menit membaca View : 7
MSA
Nasional - 19 Okt 2026

SURABAYA, LEGISLATOR.CO.ID – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, dr. Adela Kanasya Adies, M.Sc., mengingatkan perguruan tinggi agar tidak hanya berorientasi menghasilkan lulusan berijazah, tetapi juga mencetak generasi muda yang mampu memecahkan persoalan nyata di masyarakat. Menurutnya, perubahan dunia kerja akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), otomatisasi, serta ekonomi digital menuntut kampus beradaptasi lebih cepat.

Pesan tersebut disampaikan Adela saat menjadi pembicara utama dalam kegiatan pendidikan tinggi di Surabaya, Senin (19/10/2026). Ia menilai, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya mahasiswa yang menyelesaikan studi, tetapi juga dari kesiapan mereka menghadapi perubahan kebutuhan industri dan tantangan kehidupan setelah lulus.

“Dunia yang akan dihadapi mahasiswa hari ini berubah jauh lebih cepat daripada kurikulum yang kita ajarkan kepada mereka. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak anak Indonesia yang bisa kuliah, tetapi setelah mereka kuliah, apakah mereka siap menghadapi dunia yang baru?” ujar Adela.

Menurut legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur I yang meliputi Surabaya dan Sidoarjo tersebut, ijazah tetap penting sebagai bukti pendidikan formal. Namun, mahasiswa juga perlu memiliki keterampilan praktis, pengalaman, jejaring profesional, kemampuan berpikir kritis, dan karakter yang kuat agar mampu bersaing.

Adela menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu menyiapkan mahasiswa sebagai individu yang dapat memahami masalah, merumuskan solusi, dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Adela Kanasya Adies Dorong Kampus Beradaptasi dengan AI

Adela mengajak mahasiswa tidak memandang AI semata-mata sebagai ancaman bagi masa depan pekerjaan. Sebaliknya, teknologi tersebut perlu dipahami dan dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, mengembangkan gagasan, serta membantu menyelesaikan berbagai persoalan.

“AI tidak akan menggantikan semua manusia. Tetapi manusia yang mampu menggunakan AI dengan baik akan memiliki keunggulan dibandingkan manusia yang tidak mau belajar menggunakannya,” tegasnya.

Meski demikian, Adela mengingatkan bahwa penguasaan teknologi harus diimbangi kemampuan berpikir mandiri, integritas, empati, etika, dan tanggung jawab. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu menggunakan perangkat digital, tetapi juga harus memahami informasi yang dihasilkan serta dampak penggunaannya.

Ia mendorong perguruan tinggi meninjau relevansi kurikulum, memperkuat pembelajaran berbasis praktik, dan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas serta kemampuan memecahkan masalah. Dengan pendekatan tersebut, lulusan diharapkan lebih siap menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan dunia kerja.

Menurut Adela, pendidikan tinggi harus mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan. Mahasiswa perlu memperoleh kesempatan untuk menerapkan teori melalui penelitian, proyek kolaboratif, magang, dan pengembangan inovasi.

Dengan demikian, proses pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga menghasilkan kemampuan yang dapat diterapkan untuk menjawab tantangan di lingkungan kerja maupun masyarakat.

Adela Minta Kampus Gandeng Industri dan Cetak Inovator

Selain pembaruan pendidikan, Adela menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Ia menilai masing-masing pihak memiliki sumber daya yang dapat dipadukan untuk menciptakan inovasi dengan manfaat langsung bagi publik.

“Kampus punya knowledge, industri punya real problem, pemerintah punya policy, dan masyarakat punya kebutuhan. Kalau empat hal ini bertemu, di situlah inovasi terjadi,” katanya.

Adela melihat potensi Surabaya sebagai pusat pendidikan dan pengembangan talenta, sedangkan Sidoarjo memiliki basis industri serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang besar. Menurutnya, potensi kedua wilayah tersebut perlu dihubungkan agar penelitian kampus dapat menjawab kebutuhan dunia usaha dan masyarakat.

Ia mendorong pengembangan riset kolaboratif, program magang berbasis persoalan nyata, inkubasi perusahaan rintisan mahasiswa, kemitraan dengan UMKM, serta hilirisasi hasil penelitian.

Adela menilai riset tidak semestinya berhenti pada publikasi ilmiah atau banyaknya kutipan akademik. Hasil penelitian juga perlu dikembangkan menjadi teknologi, produk, layanan, atau metode baru yang bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, ia mengajak mahasiswa mengubah pola pikir dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta peluang. Indonesia membutuhkan generasi muda yang mampu berkontribusi sebagai wirausahawan, peneliti, inovator, dan teknopreneur.

“Untuk perguruan tinggi, jangan hanya mencetak lulusan. Cetaklah pemecah masalah. Dan untuk teman-teman mahasiswa, jangan hanya menunggu masa depan. Ciptakan masa depan itu mulai hari ini,” pungkas Adela.

Ia menegaskan, persiapan menuju Indonesia Emas 2045 harus dimulai sejak sekarang melalui ruang kelas, laboratorium, penelitian, inovasi mahasiswa, serta kebijakan pendidikan yang relevan. Kolaborasi antara kampus dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya siap menghadapi perubahan, tetapi juga mampu menciptakan solusi bagi masa depan bangsa (RED)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *