Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian.JAKARTA, LEGISLATOR.CO.ID – Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menekankan pentingnya perencanaan jangka panjang dalam penggunaan anggaran khusus kebencanaan untuk sektor pendidikan, agar rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah terdampak bencana tidak bersifat sporadis dan reaktif.
Menurut Hetifah, pengalaman penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menunjukkan bahwa kebutuhan anggaran pendidikan pascabencana selalu besar dan berulang. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan skema pembiayaan kebencanaan pendidikan yang terstruktur dan berkelanjutan.
“Anggaran kebencanaan pendidikan tidak boleh hanya bersifat ad hoc. Harus direncanakan sejak awal agar respons negara lebih cepat dan tepat,” ujar Hetifah di Jakarta, Minggu (18/01/2025).
Berdasarkan laporan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah terdampak bencana pada tahun 2026 mencapai Rp2,247 triliun. Anggaran tersebut diperlukan untuk memperbaiki sekolah rusak sedang, berat, hingga rusak total di tiga provinsi terdampak.
Hetifah menilai, tanpa perencanaan anggaran kebencanaan yang matang, proses pemulihan berisiko mengganggu program pendidikan lain yang telah masuk dalam rencana kerja nasional, termasuk program revitalisasi sekolah reguler.
“Anggaran kebencanaan harus dipisahkan dan dirancang sebagai dana siap pakai, sehingga tidak saling tarik-menarik dengan program pendidikan reguler,” tegasnya.
Ia mendorong Kemendikdasmen dan Kementerian Keuangan untuk membangun mekanisme penganggaran kebencanaan pendidikan yang lebih sistematis, termasuk skema multi-years bagi daerah rawan bencana.
Selain itu, Hetifah menekankan bahwa anggaran khusus kebencanaan pendidikan harus mencakup seluruh siklus pemulihan, mulai dari pembelajaran darurat, rehabilitasi fisik sekolah, hingga penguatan sekolah aman bencana.
“Dengan perencanaan anggaran yang kuat, pemulihan pendidikan tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan dan melindungi masa depan anak-anak,” pungkas Hetifah (*)

Tidak ada komentar