Adela Kanasya: Perpustakaan Harus Jadi Motor Peningkatan Kualitas SDM

3 menit membaca View : 16
MSA
Nasional - 08 Sep 2026

JAKARTA, LGISLATOR.CO.ID – Perpustakaan dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Karena itu, penguatan anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) harus diarahkan untuk membangun ekosistem literasi yang mampu meningkatkan pengetahuan sekaligus membentuk karakter generasi muda.

Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, Adela Kanasya Adies, mengatakan peningkatan kualitas SDM dan angka literasi harus menjadi bagian penting dalam kebijakan pengembangan perpustakaan nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Adela dalam rapat pembahasan anggaran Komisi X DPR RI bersama Perpusnas.

Dalam pembahasan tersebut, pagu anggaran Perpusnas Tahun Anggaran 2027 ditetapkan sebesar Rp417,725 miliar, naik sekitar 15,3 persen dibandingkan pagu 2026 sebesar Rp362,165 miliar.

Adela menilai pembangunan literasi tidak boleh dipahami sebatas meningkatkan kemampuan masyarakat membaca atau menambah jumlah koleksi buku.

Literasi harus menjadi sarana untuk memperluas wawasan, membangun kemampuan berpikir kritis, meningkatkan pengetahuan, serta mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan zaman.

“Untuk dapat terus meningkatkan kualitas SDM dan peningkatan angka literasi di Indonesia, fraksi Partai Golkar terus mendorong untuk adanya kenaikan pagu anggaran secara lebih signifikan,” ujar Adela dikutip Selasa (08/09)

Menurutnya, keberadaan perpustakaan yang berkualitas dapat menjadi salah satu fondasi dalam membangun masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk beradaptasi.

Salah satu sektor yang mendapat perhatian Adela adalah perpustakaan sekolah. Ia menilai perpustakaan sekolah harus dikembangkan menjadi ruang yang aktif digunakan peserta didik untuk belajar dan mengeksplorasi pengetahuan.

“Perpustakaan sekolah harus menyediakan bahan bacaan yang berkualitas. Jangan hanya buku pelajaran. Anak-anak kita membutuhkan buku cerita, ilmu pengetahuan, sejarah, budaya, teknologi, dan berbagai bacaan yang dapat memperkaya wawasan serta membangun karakter mereka,” jelasnya.

Dengan koleksi yang lebih beragam, perpustakaan diharapkan mampu menjadi ruang yang menyenangkan sekaligus mendorong anak-anak memiliki kebiasaan membaca.

Bahan Bacaan Harus Sesuai Kebutuhan Anak

Adela juga mengingatkan pentingnya memperhatikan kualitas dan relevansi bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan. Menurutnya, anak-anak membutuhkan berbagai jenis bacaan yang dapat memperkaya perspektif mereka terhadap dunia.

Buku mengenai ilmu pengetahuan, sejarah, budaya, teknologi, maupun cerita dapat memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas.

Karena itu, penguatan perpustakaan harus mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman.

Adela menilai pembangunan ekosistem literasi juga harus menyentuh masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.

Wilayah pedesaan serta daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) membutuhkan perhatian agar kesenjangan akses terhadap bahan bacaan berkualitas dapat dikurangi.

Komisi X DPR RI juga menerima usulan tambahan anggaran Perpusnas sebesar Rp307,774 miliar untuk memperkuat berbagai program strategis literasi, terutama di wilayah pedesaan dan 3T.

Adela berharap tambahan anggaran tersebut tidak hanya memperluas jangkauan layanan, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan bahan bacaan yang benar-benar bermanfaat.

Dampak Harus Jadi Ukuran

Menurut Adela, keberhasilan program perpustakaan tidak cukup dinilai dari jumlah buku yang berhasil disediakan.

Dampak terhadap masyarakat harus menjadi salah satu ukuran utama.

“Jangan sampai kita hanya menghitung berapa banyak buku yang tersedia, tetapi tidak melihat apakah buku tersebut benar-benar dibaca dan memberikan manfaat bagi anak-anak dan masyarakat,” tegasnya.

Karena itu, setiap program literasi perlu memiliki tujuan yang jelas dan dapat diukur, termasuk dalam melihat peningkatan minat baca serta pemanfaatan perpustakaan oleh masyarakat.

Adela menegaskan peningkatan pagu anggaran Perpusnas merupakan peluang untuk memperkuat pembangunan literasi nasional.

Namun, kenaikan anggaran tersebut harus dibarengi peningkatan kualitas program dan pelayanan.

“Prinsipnya sederhana, setiap rupiah anggaran negara harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, peningkatan anggaran harus dibarengi dengan peningkatan kualitas program, pelayanan, dan dampaknya bagi masyarakat,” pungkas Adela.

Ia menambahkan, Komisi X DPR RI akan terus menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan anggaran di sektor pendidikan dan kebudayaan, termasuk perpustakaan, digunakan secara efektif.

Bagi Adela, perpustakaan bukan sekadar gedung atau tempat menyimpan buku, melainkan salah satu instrumen penting untuk membangun masyarakat yang berpengetahuan, kritis, dan memiliki daya saing (red)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *