Mendagri Tito: Pemimpin Harus Berpikir dengan Data

2 menit membaca View : 13

Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta peserta Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri membangun kebiasaan mengambil keputusan dan merumuskan kebijakan berdasarkan sains serta data.

Pesan tersebut disampaikan Tito saat menjadi narasumber Dialog Kebangsaan Sespim Lemdiklat Polri di Gedung Tribrata Convention Center Dharmawangsa, Jakarta, Senin.

Menurut Tito, peserta Sespim sebagai calon pemimpin strategis akan menghadapi berbagai persoalan yang menuntut keputusan cepat dan tepat. Karena itu, setiap persoalan perlu dikaji melalui referensi yang memadai, pengumpulan data, serta analisis dengan metodologi yang sesuai.

Ia menegaskan, pendidikan formal tidak semata-mata bertujuan mendapatkan gelar, tetapi juga membentuk pola pikir ilmiah. Pendidikan di perguruan tinggi, kata Tito, seharusnya melatih seseorang meninggalkan pengambilan keputusan yang hanya mengandalkan perasaan menuju pendekatan yang sistematis dan berbasis ilmu pengetahuan.

“Jadi, targetnya S1 itu hanya untuk mengubah cara berpikir, mengambil keputusan yang tadinya hanya feeling-feeling-an menjadi berbasis systematic science, ilmiah,” tegasnya.

Tito menjelaskan, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar pula tuntutan terhadap kemampuan mencari referensi, memahami metodologi, mengolah data, hingga menarik kesimpulan. Kemampuan tersebut dinilai penting sebagai bekal pemimpin dalam menghadapi persoalan di lapangan.

Selain kemampuan analitis, Tito mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak cukup dibangun hanya dengan kewenangan atau jumlah pengikut. Seorang pemimpin harus mampu menyusun konsep, menentukan arah, dan memberikan panduan yang jelas bagi organisasi.

“Strong leader itulah leader yang tidak hanya memiliki power, kekuasaan. Kita nanti memiliki kekuasaan, kapolres, kapolda, kajati, kajari, [atau] mungkin menjadi komandan di TNI, tapi power is not enough,” tuturnya.

Menurut Tito, pengetahuan menjadi salah satu fondasi utama dalam membentuk kepemimpinan yang kuat. Pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman, proses belajar dari orang lain, serta memperbanyak bacaan dan referensi.

“Makin rajin membaca, makin banyak membaca, makin banyak knowledge, maka ketika menghadapi problem, kita akan memiliki referensi yang banyak, tinggal menambah data, terus bisa mengambil keputusan. Itulah, pemimpin yang kuat, strong leader, dia harus memiliki konsep,” kata Tito.

Tito juga mendorong peserta Sespim untuk memperluas wawasan melalui pendidikan, termasuk kesempatan belajar di luar negeri. Menurutnya, pengalaman belajar di negara maju dapat memberikan manfaat dalam bentuk pengetahuan, budaya, kedisiplinan, serta jejaring internasional.

“Kalau sekolahnya luar negeri, apalagi negara maju, negara yang disiplin, less corrupt, keunggulannya kita bisa mendapatkan budaya itu tertular ke kita,” ujarnya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *